Visi Karya Kita 2023

Belajar, berbagi, berkolaborasi dan berkreasi khusus ke GPAI dan umum semuanya.

experience and creation

Kerja cerdas, kerja keras, kerja tuntas dan kerja Tim, Alhasil target tercapai.

Ability

Belajar, praktik, berbagi dan berkreasi.

Mengingatkan Kebaikan dengan Cara Lembut

 

SELASA • PRAKTIK BAIK

Mengingatkan Kebaikan dengan Cara Lembut

Menegur Tanpa Melukai, Membimbing Tanpa Merendahkan

Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Siswa bisa lupa mengerjakan tugas, berbicara ketika guru menjelaskan, atau melakukan sesuatu yang kurang tepat. Begitu juga dengan orang dewasa, baik guru, rekan kerja, maupun anggota keluarga.

Ketika melihat kesalahan, kita tentu ingin mengingatkan. Namun, cara menyampaikan nasihat sangat menentukan bagaimana nasihat tersebut diterima.

Nasihat yang disampaikan dengan marah, menyindir, atau mempermalukan seseorang justru dapat membuat orang tersebut merasa tersinggung dan sulit menerima masukan.

Sebaliknya, nasihat yang disampaikan dengan lembut, santun, dan penuh kepedulian dapat membuka hati seseorang untuk memperbaiki diri.

“Tujuan menasihati bukan membuat orang malu, tetapi membantu mereka menjadi lebih baik.”

Mengapa Cara Menasihati Itu Penting?

Sebagai guru PAI, kita tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga menanamkan akhlak kepada peserta didik.

Ketika guru mengingatkan kesalahan siswa, sebenarnya guru sedang memberikan contoh tentang bagaimana menghadapi kesalahan dengan cara yang baik.

Siswa perlu belajar bahwa mengingatkan orang lain bukan berarti merasa lebih baik. Kita mengingatkan karena peduli dan ingin melihat orang lain menjadi lebih baik.

Karena itu, menegur dan menasihati perlu dilakukan dengan cara yang menjaga perasaan serta harga diri orang lain.

Prinsip Mengingatkan Kebaikan

1. Sampaikan dengan Cara yang Tepat

Jika kesalahan seseorang tidak perlu diketahui orang lain, sebaiknya nasihat disampaikan secara pribadi.

Misalnya, ketika seorang siswa melakukan kesalahan, guru tidak perlu langsung menegurnya di depan seluruh kelas.

Daripada berkata:

“Kamu memang selalu begitu!”

Lebih baik mengatakan:

“Boleh Bapak/Ibu berbicara sebentar? Ada hal yang ingin kita perbaiki bersama.”

Cara seperti ini membuat siswa merasa dihargai dan tidak dipermalukan.

2. Gunakan Bahasa yang Lembut

Kata-kata yang kita gunakan dapat memengaruhi perasaan seseorang.

Contohnya:

Kurang tepat:

“Kamu memang tidak pernah disiplin!”

Lebih baik:

“Besok kita coba datang lebih awal, ya. Bapak/Ibu yakin kamu bisa lebih disiplin.”

Pesannya tetap sama, yaitu mengingatkan tentang kedisiplinan. Namun, cara penyampaiannya lebih positif.

3. Perbaiki Perilaku, Bukan Merendahkan Pribadi

Kesalahan seseorang tidak berarti orang tersebut adalah pribadi yang buruk.

Misalnya, jangan mengatakan:

“Kamu anak malas.”

Lebih baik:

“Tugasmu belum selesai. Apa yang membuat kamu kesulitan? Mari kita cari solusinya.”

Dengan demikian, siswa memahami bahwa perilaku dapat diperbaiki dan setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah.

4. Berikan Solusi dan Kesempatan Berubah

Nasihat sebaiknya tidak hanya berisi larangan.

Jangan berhenti pada:

“Jangan melakukan itu lagi!”

Tetapi lanjutkan dengan memberikan solusi.

Misalnya:

“Tadi kamu berbicara ketika teman sedang presentasi. Lain kali kita tunggu sampai teman selesai, kemudian kamu bisa menyampaikan pendapat.”

Dengan cara tersebut, siswa mengetahui apa yang harus diperbaiki dan bagaimana melakukannya.

Mengapa Nasihat yang Lembut Lebih Mudah Diterima?

Nasihat yang lembut bukan berarti membiarkan kesalahan. Justru, kelembutan dapat membuat seseorang lebih siap mendengarkan.

Ketika seseorang merasa dihargai, ia cenderung lebih terbuka menerima masukan.

Nasihat yang lembut dapat membantu:

  • menjaga harga diri;
  • mengurangi rasa malu;
  • membangun kepercayaan;
  • mencegah konflik;
  • membuat komunikasi lebih nyaman;
  • mendorong seseorang memperbaiki diri.

Sebaliknya, teguran yang keras dan mempermalukan dapat membuat seseorang lebih sibuk mempertahankan diri daripada memahami pesan yang disampaikan.

Penguatan Nilai Islam

Islam mengajarkan agar kita mengajak kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana.

Allah Swt. berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik...”
QS. An-Nahl: 125

Ayat ini menjadi pengingat bahwa menyampaikan kebaikan perlu dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik.

Dalam pendidikan, prinsip tersebut dapat diterapkan ketika guru memberikan nasihat kepada siswa.

Guru tidak hanya perlu memikirkan apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.

Contoh Nasihat yang Santun kepada Siswa

Ketika siswa berbicara saat guru menjelaskan

“Kamu berisik sekali!”

“Mari kita tenang dulu agar teman-teman bisa belajar dengan nyaman.”

Ketika siswa mengejek temannya

“Jangan jadi anak nakal!”

“Kita jaga ucapan, ya. Teman kita juga ingin dihargai.”

Ketika siswa belum mengerjakan tugas

“Kamu memang malas!”

“Apa yang membuat tugasmu belum selesai? Mari kita cari solusinya.”

Ketika siswa memberikan jawaban yang kurang tepat

“Jawabanmu salah!”

“Coba kita periksa lagi. Mungkin ada bagian yang perlu diperbaiki.”

Perubahan kalimat yang sederhana dapat membuat suasana pembelajaran menjadi jauh lebih nyaman.

Tidak Hanya kepada Siswa

Kebiasaan mengingatkan dengan lembut tidak hanya diterapkan kepada peserta didik.

Guru juga dapat menerapkannya ketika berkomunikasi dengan rekan kerja dan keluarga.

Kepada rekan kerja, daripada mengatakan:

“Cara kerjanya salah.”

Bisa diganti dengan:

“Mungkin ada cara lain yang bisa kita coba agar hasilnya lebih baik.”

Kepada keluarga, daripada mengatakan:

“Kamu selalu lupa!”

Bisa mengatakan:

“Lain kali kita coba buat pengingat supaya tidak terlupa lagi.”

Prinsipnya sederhana:

“Sampaikan masalahnya tanpa menyerang orangnya.”

Praktik Sederhana: Hargai – Ingatkan – Bimbing

Guru dapat menggunakan tiga langkah sederhana ketika memberikan nasihat.

️ 1. HARGAI

Tunjukkan bahwa kita menghargai orang yang sedang diajak berbicara.

🌿 2. INGATKAN

Sampaikan perilaku yang perlu diperbaiki dengan bahasa yang santun.

🤝 3. BIMBING

Berikan solusi dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Contohnya:

“Bapak/Ibu tahu kamu sebenarnya bisa lebih baik. Tadi ketika teman berbicara, kamu masih bercanda. Yuk, mulai sekarang kita belajar mendengarkan sampai selesai.”

Guru sebagai Teladan

Siswa akan belajar bukan hanya dari nasihat yang diberikan, tetapi juga dari cara guru memperlakukan orang lain.

Jika guru terbiasa berbicara dengan santun, mendengarkan dengan sabar, dan memberikan teguran tanpa mempermalukan, siswa akan melihat contoh nyata bagaimana seharusnya seseorang mengingatkan orang lain.

Inilah pentingnya keteladanan guru dalam pendidikan karakter.

Guru tidak cukup mengatakan:

“Jangan menyakiti perasaan teman.”

Guru juga perlu menunjukkan bagaimana cara berbicara yang tidak menyakiti perasaan orang lain.

Muhasabah untuk Guru

Sebelum memberikan nasihat, ada baiknya guru bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya sedang membantu atau sedang melampiaskan emosi?

Apakah saya ingin siswa berubah atau hanya ingin menunjukkan bahwa saya benar?

Apakah cara bicara saya sudah mencerminkan akhlak yang saya ajarkan?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari muhasabah guru.

Sebab, mendidik orang lain juga merupakan kesempatan bagi kita untuk terus memperbaiki diri.

Penutup

Mengingatkan kebaikan merupakan bagian dari kepedulian terhadap sesama. Namun, kebaikan tersebut akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan cara yang santun dan penuh kasih sayang.

Sebagai guru, mari membiasakan diri untuk menegur tanpa mempermalukan, mengingatkan tanpa menyindir, dan membimbing tanpa merendahkan.

Karena tujuan dari nasihat bukan untuk menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Tujuan nasihat adalah membantu seseorang menjadi lebih baik.

“Nasihat yang baik bukan yang paling keras, tetapi yang mampu menyentuh hati dan membuka jalan untuk berubah.”