SELASA • PRAKTIK BAIK
Mengingatkan Kebaikan dengan Cara Lembut
Menegur Tanpa Melukai, Membimbing Tanpa Merendahkan
Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Siswa bisa lupa mengerjakan
tugas, berbicara ketika guru menjelaskan, atau melakukan sesuatu yang kurang
tepat. Begitu juga dengan orang dewasa, baik guru, rekan kerja, maupun anggota
keluarga.
Ketika melihat kesalahan, kita tentu ingin mengingatkan. Namun, cara
menyampaikan nasihat sangat menentukan bagaimana nasihat tersebut diterima.
Nasihat yang disampaikan dengan marah, menyindir, atau mempermalukan
seseorang justru dapat membuat orang tersebut merasa tersinggung dan sulit
menerima masukan.
Sebaliknya, nasihat yang disampaikan dengan lembut, santun, dan penuh
kepedulian dapat membuka hati seseorang untuk memperbaiki diri.
“Tujuan menasihati bukan membuat orang malu, tetapi membantu mereka
menjadi lebih baik.”
Mengapa Cara Menasihati Itu Penting?
Sebagai guru PAI, kita tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi
juga menanamkan akhlak kepada peserta didik.
Ketika guru mengingatkan kesalahan siswa, sebenarnya guru sedang
memberikan contoh tentang bagaimana menghadapi kesalahan dengan cara yang baik.
Siswa perlu belajar bahwa mengingatkan orang lain bukan berarti merasa
lebih baik. Kita mengingatkan karena peduli dan ingin melihat orang lain
menjadi lebih baik.
Karena itu, menegur dan menasihati perlu dilakukan dengan cara yang
menjaga perasaan serta harga diri orang lain.
Prinsip Mengingatkan Kebaikan
1. Sampaikan dengan Cara yang Tepat
Jika kesalahan seseorang tidak perlu diketahui orang lain, sebaiknya
nasihat disampaikan secara pribadi.
Misalnya, ketika seorang siswa melakukan kesalahan, guru tidak perlu
langsung menegurnya di depan seluruh kelas.
Daripada berkata:
“Kamu memang selalu begitu!”
Lebih baik mengatakan:
“Boleh Bapak/Ibu berbicara sebentar? Ada hal yang ingin kita perbaiki
bersama.”
Cara seperti ini membuat siswa merasa dihargai dan tidak dipermalukan.
2. Gunakan Bahasa yang Lembut
Kata-kata yang kita gunakan dapat memengaruhi perasaan seseorang.
Contohnya:
Kurang tepat:
“Kamu memang tidak pernah disiplin!”
Lebih baik:
“Besok kita coba datang lebih awal, ya. Bapak/Ibu yakin kamu bisa lebih
disiplin.”
Pesannya tetap sama, yaitu mengingatkan tentang kedisiplinan. Namun,
cara penyampaiannya lebih positif.
3. Perbaiki Perilaku, Bukan Merendahkan Pribadi
Kesalahan seseorang tidak berarti orang tersebut adalah pribadi yang
buruk.
Misalnya, jangan mengatakan:
“Kamu anak malas.”
Lebih baik:
“Tugasmu belum selesai. Apa yang membuat kamu kesulitan? Mari kita cari
solusinya.”
Dengan demikian, siswa memahami bahwa perilaku dapat diperbaiki dan
setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah.
4. Berikan Solusi dan Kesempatan Berubah
Nasihat sebaiknya tidak hanya berisi larangan.
Jangan berhenti pada:
“Jangan melakukan itu lagi!”
Tetapi lanjutkan dengan memberikan solusi.
Misalnya:
“Tadi kamu berbicara ketika teman sedang presentasi. Lain kali kita
tunggu sampai teman selesai, kemudian kamu bisa menyampaikan pendapat.”
Dengan cara tersebut, siswa mengetahui apa yang harus diperbaiki dan
bagaimana melakukannya.
Mengapa Nasihat yang Lembut Lebih Mudah Diterima?
Nasihat yang lembut bukan berarti membiarkan kesalahan. Justru,
kelembutan dapat membuat seseorang lebih siap mendengarkan.
Ketika seseorang merasa dihargai, ia cenderung lebih terbuka menerima
masukan.
Nasihat yang lembut dapat membantu:
- menjaga
harga diri;
- mengurangi
rasa malu;
- membangun
kepercayaan;
- mencegah
konflik;
- membuat
komunikasi lebih nyaman;
- mendorong
seseorang memperbaiki diri.
Sebaliknya, teguran yang keras dan mempermalukan dapat membuat seseorang
lebih sibuk mempertahankan diri daripada memahami pesan yang disampaikan.
Penguatan Nilai Islam
Islam mengajarkan agar kita mengajak kepada kebaikan dengan cara yang
bijaksana.
Allah Swt. berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran
yang baik...”
QS. An-Nahl: 125
Ayat ini menjadi pengingat bahwa menyampaikan kebaikan perlu dilakukan
dengan hikmah dan cara yang baik.
Dalam pendidikan, prinsip tersebut dapat diterapkan ketika guru
memberikan nasihat kepada siswa.
Guru tidak hanya perlu memikirkan apa yang harus disampaikan,
tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.
Contoh Nasihat yang Santun kepada Siswa
Ketika siswa berbicara saat guru menjelaskan
❌ “Kamu
berisik sekali!”
✅ “Mari
kita tenang dulu agar teman-teman bisa belajar dengan nyaman.”
Ketika siswa mengejek temannya
❌ “Jangan
jadi anak nakal!”
✅ “Kita
jaga ucapan, ya. Teman kita juga ingin dihargai.”
Ketika siswa belum mengerjakan tugas
❌ “Kamu memang
malas!”
✅ “Apa
yang membuat tugasmu belum selesai? Mari kita cari solusinya.”
Ketika siswa memberikan jawaban yang kurang tepat
❌ “Jawabanmu
salah!”
✅ “Coba
kita periksa lagi. Mungkin ada bagian yang perlu diperbaiki.”
Perubahan kalimat yang sederhana dapat membuat suasana pembelajaran
menjadi jauh lebih nyaman.
Tidak Hanya kepada Siswa
Kebiasaan mengingatkan dengan lembut tidak hanya diterapkan kepada
peserta didik.
Guru juga dapat menerapkannya ketika berkomunikasi dengan rekan kerja
dan keluarga.
Kepada rekan kerja, daripada mengatakan:
“Cara kerjanya salah.”
Bisa diganti dengan:
“Mungkin ada cara lain yang bisa kita coba agar hasilnya lebih baik.”
Kepada keluarga, daripada mengatakan:
“Kamu selalu lupa!”
Bisa mengatakan:
“Lain kali kita coba buat pengingat supaya tidak terlupa lagi.”
Prinsipnya sederhana:
“Sampaikan masalahnya tanpa menyerang orangnya.”
Praktik Sederhana: Hargai – Ingatkan – Bimbing
Guru dapat menggunakan tiga langkah sederhana ketika memberikan nasihat.
❤️ 1.
HARGAI
Tunjukkan bahwa kita menghargai orang yang sedang diajak berbicara.
🌿 2.
INGATKAN
Sampaikan perilaku yang perlu diperbaiki dengan bahasa yang santun.
🤝 3.
BIMBING
Berikan solusi dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Contohnya:
“Bapak/Ibu tahu kamu sebenarnya bisa lebih baik. Tadi ketika teman
berbicara, kamu masih bercanda. Yuk, mulai sekarang kita belajar mendengarkan
sampai selesai.”
Guru sebagai Teladan
Siswa akan belajar bukan hanya dari nasihat yang diberikan, tetapi juga
dari cara guru memperlakukan orang lain.
Jika guru terbiasa berbicara dengan santun, mendengarkan dengan sabar,
dan memberikan teguran tanpa mempermalukan, siswa akan melihat contoh nyata
bagaimana seharusnya seseorang mengingatkan orang lain.
Inilah pentingnya keteladanan guru dalam pendidikan karakter.
Guru tidak cukup mengatakan:
“Jangan menyakiti perasaan teman.”
Guru juga perlu menunjukkan bagaimana cara berbicara yang tidak
menyakiti perasaan orang lain.
Muhasabah untuk Guru
Sebelum memberikan nasihat, ada baiknya guru bertanya kepada diri
sendiri:
Apakah saya sedang membantu atau sedang melampiaskan emosi?
Apakah saya ingin siswa berubah atau hanya ingin menunjukkan bahwa saya
benar?
Apakah cara bicara saya sudah mencerminkan akhlak yang saya ajarkan?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari muhasabah
guru.
Sebab, mendidik orang lain juga merupakan kesempatan bagi kita untuk
terus memperbaiki diri.
Penutup
Mengingatkan kebaikan merupakan bagian dari kepedulian terhadap sesama.
Namun, kebaikan tersebut akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan
cara yang santun dan penuh kasih sayang.
Sebagai guru, mari membiasakan diri untuk menegur tanpa
mempermalukan, mengingatkan tanpa menyindir, dan membimbing tanpa merendahkan.
Karena tujuan dari nasihat bukan untuk menunjukkan siapa yang benar dan
siapa yang salah.
Tujuan nasihat adalah membantu seseorang menjadi lebih baik.
“Nasihat yang baik bukan yang paling keras, tetapi yang mampu menyentuh
hati dan membuka jalan untuk berubah.”











