Visi Karya Kita 2023

Belajar, berbagi, berkolaborasi dan berkreasi khusus ke GPAI dan umum semuanya.

experience and creation

Kerja cerdas, kerja keras, kerja tuntas dan kerja Tim, Alhasil target tercapai.

Ability

Belajar, praktik, berbagi dan berkreasi.

Showing posts with label Catatanku. Show all posts
Showing posts with label Catatanku. Show all posts

Cara Guru PAI Berkomunikasi dengan Orang Tua Siswa yang Efektif dan Profesional


 Berkomunikasi dengan Baik kepada Orang Tua Siswa

Download Prompt dengan klik tombol dibawah ini :



Guru PAI Tidak Hanya Mengajar, tetapi Juga Menjalin Kemitraan

Pendidikan yang berhasil tidak hanya bergantung pada proses belajar di sekolah. Peran orang tua di rumah juga sangat menentukan perkembangan karakter, akhlak, dan prestasi peserta didik.

Oleh karena itu, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang tua siswa. Komunikasi yang hangat, jujur, dan saling menghargai akan menciptakan hubungan yang harmonis antara sekolah dan keluarga.

Dalam kompetensi sosial, Guru PAI dituntut mampu menjadi jembatan yang menghubungkan pendidikan di sekolah dengan pembiasaan di rumah. Ketika guru dan orang tua memiliki tujuan yang sama, perkembangan peserta didik akan lebih optimal.


Mengapa Komunikasi dengan Orang Tua Sangat Penting?

Banyak persoalan peserta didik dapat diselesaikan dengan lebih cepat jika guru dan orang tua saling terbuka.

Sebaliknya, kurangnya komunikasi sering menimbulkan kesalahpahaman, informasi yang tidak lengkap, bahkan menurunkan kepercayaan terhadap sekolah.

Komunikasi yang baik memberikan banyak manfaat, antara lain:

  • membangun rasa saling percaya;
  • memudahkan pemantauan perkembangan peserta didik;
  • menyamakan pola pembinaan karakter;
  • mempercepat penyelesaian masalah;
  • meningkatkan semangat belajar peserta didik.

Pada akhirnya, peserta didik akan merasakan bahwa guru dan orang tua bekerja sebagai satu tim yang mendukung pertumbuhan mereka.


1. Sampaikan Kabar Siswa dengan Bahasa yang Baik dan Jujur

Sebagai Guru PAI, kita sering memberikan informasi mengenai perkembangan belajar maupun perilaku peserta didik kepada orang tua.

Cara penyampaian sangat menentukan bagaimana pesan diterima.

Gunakan bahasa yang:

  • sopan;
  • jelas;
  • tidak menyalahkan;
  • objektif berdasarkan fakta;
  • mudah dipahami.

Hindari kalimat yang menghakimi, membandingkan dengan siswa lain, atau memberi label negatif.

Contoh yang Kurang Tepat

"Anaknya nakal dan sulit diatur."

Kalimat tersebut dapat membuat orang tua merasa tersinggung dan tidak memberikan solusi.

Contoh yang Lebih Baik

"Ananda masih perlu bimbingan dalam menjaga ketertiban di kelas. Kami berharap dapat bekerja sama dengan Bapak/Ibu agar kebiasaan baik ini juga dilatih di rumah."

Bahasa seperti ini tetap jujur, tetapi lebih santun dan mengajak bekerja sama.


2. Jangan Hanya Menyampaikan Kesalahan, tetapi Juga Kelebihan dan Kemajuan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menghubungi orang tua hanya ketika peserta didik melakukan pelanggaran.

Padahal, setiap anak memiliki potensi dan kemajuan yang layak diapresiasi.

Cobalah menyampaikan hal-hal positif seperti:

  • peningkatan nilai;
  • hafalan yang bertambah;
  • keberanian bertanya;
  • kedisiplinan;
  • kepedulian kepada teman;
  • akhlak yang semakin baik.

Ketika orang tua mendengar kabar baik, mereka akan merasa dihargai dan semakin termotivasi untuk mendukung perkembangan anak.

Misalnya:

"Alhamdulillah, minggu ini Ananda sudah berani menjadi imam salat dhuha di kelas. Terima kasih atas dukungan Bapak/Ibu di rumah."

Apresiasi sederhana seperti ini dapat memperkuat hubungan antara guru dan orang tua.


3. Bangun Kerja Sama antara Sekolah dan Rumah

Guru PAI dan orang tua memiliki tujuan yang sama, yaitu mendidik anak menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab.

Karena itu, komunikasi hendaknya tidak hanya bersifat memberi informasi, tetapi juga mengajak bekerja sama.

Beberapa bentuk kerja sama yang dapat dilakukan antara lain:

  • membiasakan salat tepat waktu di rumah;
  • mendampingi anak menghafal surah pendek;
  • membiasakan membaca doa harian;
  • mengawasi penggunaan gawai;
  • membangun kebiasaan jujur dan disiplin.

Dengan adanya kesepakatan bersama, pembiasaan yang dilakukan di sekolah akan lebih mudah diterapkan di rumah.


4. Ingat, Mendidik Anak adalah Tanggung Jawab Bersama

Guru hanya mendampingi peserta didik selama beberapa jam di sekolah.

Sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama keluarga.

Oleh karena itu, pendidikan yang berhasil membutuhkan sinergi antara sekolah dan rumah.

Guru memberikan arahan di sekolah, sedangkan orang tua memperkuat pembiasaan di rumah.

Ketika keduanya saling mendukung, peserta didik akan memperoleh lingkungan belajar yang konsisten dan positif.

Sebaliknya, jika guru dan orang tua berjalan sendiri-sendiri, perkembangan anak akan kurang optimal.


Tips Praktis Berkomunikasi dengan Orang Tua

Agar komunikasi berjalan efektif, Guru PAI dapat menerapkan beberapa kebiasaan berikut:

  • memulai komunikasi dengan salam dan sapaan yang ramah;
  • menyampaikan fakta, bukan asumsi;
  • mendengarkan pendapat orang tua dengan empati;
  • menjaga kerahasiaan informasi peserta didik;
  • memilih waktu yang tepat untuk berdiskusi;
  • menggunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami;
  • memberikan solusi, bukan hanya kritik;
  • mengakhiri komunikasi dengan harapan dan doa yang baik.

Komunikasi yang baik tidak selalu panjang, tetapi harus memberikan manfaat dan membangun hubungan yang positif.


Contoh Pesan Singkat kepada Orang Tua

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak/Ibu, Alhamdulillah hari ini Ananda menunjukkan perkembangan yang baik dalam pembelajaran PAI. Ananda sudah lebih percaya diri saat membaca doa di depan kelas. Masih ada beberapa hal yang perlu terus dilatih, seperti menjaga konsentrasi saat belajar. Semoga kita dapat terus bekerja sama dalam membimbing Ananda agar tumbuh menjadi anak yang saleh, disiplin, dan berakhlak mulia. Terima kasih atas dukungan Bapak/Ibu.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pesan seperti ini lebih menenangkan karena mengandung apresiasi, informasi, serta ajakan untuk bekerja sama.


Peran Guru PAI sebagai Mitra Orang Tua

Guru PAI bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga mitra bagi orang tua dalam mendidik anak.

Sikap ramah, terbuka, dan komunikatif akan membangun kepercayaan yang kuat.

Kepercayaan tersebut menjadi modal penting dalam membentuk karakter peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab.

Ketika komunikasi berjalan dengan baik, sekolah dan rumah akan saling melengkapi dalam proses pendidikan.


Penutup

Komunikasi yang baik antara Guru PAI dan orang tua merupakan bagian penting dari kompetensi sosial seorang pendidik. Menyampaikan perkembangan siswa dengan bahasa yang santun, memberikan apresiasi atas kelebihan anak, serta mengajak orang tua untuk bekerja sama akan menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis.

Mari kita jadikan setiap komunikasi sebagai sarana membangun kepercayaan, mempererat kemitraan, dan menghadirkan pendidikan yang utuh. Sebab, mendidik anak bukan hanya tugas guru atau orang tua semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama demi melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.


FAQ (SEO)

Mengapa Guru PAI harus berkomunikasi dengan orang tua siswa?

Karena komunikasi yang baik membantu menyelaraskan pembinaan karakter, ibadah, dan perkembangan belajar antara sekolah dan rumah.

Bagaimana cara menyampaikan perkembangan siswa kepada orang tua?

Gunakan bahasa yang santun, jujur, berdasarkan fakta, sertakan apresiasi atas kelebihan siswa, dan ajak orang tua bekerja sama mencari solusi.

Apa manfaat kerja sama antara guru dan orang tua?

Kerja sama yang baik meningkatkan perkembangan akademik, karakter, disiplin, dan kebiasaan positif peserta didik karena pembinaan dilakukan secara konsisten di sekolah maupun di rumah.

Apa hubungan komunikasi dengan kompetensi Guru PAI?

Kemampuan berkomunikasi merupakan bagian dari kompetensi sosial Guru PAI. Guru yang mampu menjalin komunikasi positif dengan orang tua akan lebih mudah membangun kemitraan dalam mendidik peserta didik secara menyeluruh.

Ilmu yang Diamalkan Bagai Pohon Berbuah


 Ilmu yang Diamalkan Bagai Pohon Berbuah

Download prompt infografis : https://docs.google.com/document/d/1zaCRccEjfn-BT5FZafITSDeI0584IqbtrE0Z941Aynw/edit?usp=drivesdk

Ilmu merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Namun, nilai ilmu tidak hanya terletak pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, melainkan pada sejauh mana ilmu tersebut diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


Oleh karena itu, para ulama sering mengibaratkan bahwa:

> "Ilmu yang diamalkan bagai pohon berbuah."

Perumpamaan ini mengandung makna yang sangat dalam. Sebagaimana pohon yang sehat akan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi banyak orang, demikian pula ilmu yang diamalkan akan memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.


Mengapa Ilmu Diibaratkan Pohon?

  1. Bayangkan sebuah pohon yang tumbuh subur.
  2. Akar yang kuat melambangkan iman dan niat yang ikhlas.
  3. Batang melambangkan ilmu yang dipelajari
  4. Daun melambangkan akhlak yang baik.
  5. Buah melambangkan amal saleh dan manfaat bagi sesama.

Apabila pohon tidak menghasilkan buah, keberadaannya menjadi kurang bermanfaat. Begitu pula seseorang yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak mengamalkannya, ilmunya tidak memberikan dampak nyata.

Sebaliknya, meskipun ilmu yang dimiliki sedikit, jika diamalkan secara istiqamah, manfaatnya akan terus dirasakan oleh banyak orang.

Dalil Al-Qur'an tentang Mengamalkan Ilmu

Allah Swt. berfirman:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan."

(QS. Ash-Shaff: 2–3)


Ayat ini mengingatkan bahwa seorang muslim hendaknya tidak hanya pandai berbicara atau mengajarkan kebaikan, tetapi juga berusaha menjadi teladan melalui amal nyata.


Hadis tentang Ilmu yang Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

(HR. Ahmad, dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Hadis ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari luasnya ilmu, tetapi juga dari manfaat yang diberikannya kepada orang lain.

---

Manfaat Ilmu yang Diamalkan

1. Bermanfaat bagi Diri Sendiri

Ilmu yang diamalkan akan membentuk kepribadian yang lebih baik. Seseorang menjadi lebih disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan semakin dekat kepada Allah Swt.

Misalnya, seseorang yang mengetahui pentingnya salat tepat waktu kemudian benar-benar menjaga salatnya akan merasakan ketenangan hati dan keberkahan hidup.


2. Memberikan Manfaat bagi Orang Lain

Ilmu yang diterapkan akan menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitar.

Seorang guru yang mengajarkan kejujuran sekaligus mempraktikkannya akan lebih mudah diteladani oleh murid-muridnya dibandingkan hanya memberikan nasihat.

Begitu pula orang tua yang membiasakan membaca Al-Qur'an di rumah akan mendorong anak-anaknya mencintai Al-Qur'an.


3. Menjadi Amal Jariyah

Ilmu termasuk amal yang pahalanya dapat terus mengalir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."

(HR. Muslim)

Guru, ustaz, dosen, maupun siapa saja yang mengajarkan ilmu bermanfaat akan terus memperoleh pahala selama ilmunya diamalkan oleh orang lain.


4. Mendekatkan Diri kepada Allah

Ilmu yang diamalkan akan meningkatkan ketakwaan.

Allah Swt. berfirman:

> "Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."

(QS. Fatir: 28)


Semakin seseorang memahami agama dan mengamalkannya, semakin tumbuh rasa takut, cinta, dan harap kepada Allah.


Cara Mengamalkan Ilmu dalam Kehidupan Sehari-hari

Mengamalkan ilmu tidak harus dimulai dengan hal-hal besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten justru memiliki nilai yang besar di sisi Allah.


Beberapa contoh yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengamalkan ilmu yang baru dipelajari meskipun sedikit.
  2. Menjaga salat lima waktu tepat waktu.
  3. Membaca Al-Qur'an setiap hari.
  4. Bersikap jujur dalam perkataan dan perbuatan.
  5. Mengajarkan ilmu kepada keluarga, teman, atau peserta didik.
  6. Menjadi teladan dalam akhlak, bukan hanya pandai memberi nasihat.


Refleksi untuk Guru PAI

Bagi seorang Guru Pendidikan Agama Islam, mengamalkan ilmu merupakan bagian dari tanggung jawab profesi dan ibadah.

Peserta didik lebih mudah belajar melalui contoh nyata daripada sekadar teori. Ketika guru menunjukkan kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, dan akhlak mulia, siswa akan terdorong untuk meneladaninya.

Karena itu, keberhasilan seorang guru bukan hanya diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi juga dari perubahan karakter peserta didik yang lahir melalui keteladanan.


Penutup

Ilmu yang diamalkan ibarat pohon yang terus berbuah. Semakin banyak diamalkan, semakin besar manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Bahkan setelah seseorang meninggal dunia, pahala dari ilmu yang bermanfaat dapat terus mengalir sebagai amal jariyah.

Marilah kita menjadikan ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi juga untuk diamalkan dan disebarkan dengan penuh keikhlasan.


> "Ilmu adalah akar, amal adalah buah, dan manfaat adalah kemuliaan."

Muhasabah 2020


 Ya Rabb..

Tak terasa waktu berlalu, baik disadari ataupun tidak.

Sepatah kata Untuk Ayah

Perkataan ayah penting buat tubuh kembang anak...

"AYAH BISU"

Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan, mungkin bisa menyemangati para ayah untuk rajin berdialog dengan anak-anaknya.

Judul tulisan ilmiah tersebut adalah: ِ

“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”

Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya.

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.

Menjadi Pandai dengan Mengerjakan




Menjadi Pandai dengan Mengerjakan
Roni, seorang karyawan bank swasta, sudah berkali-kali mengikuti seminar tentang wirausaha. Berbagai macam teknik bisnis sudah ia pelajari tapi sampai hari ini ia masih belum berani mengambil tindakan untuk memulai usaha baru.
Banyak diantara kita yang punya “hobby” belajar tapi rasanya kok hidup belum menunjukan perubahan berarti. Berapa banyak buku yang sudah Anda baca, berapa kali sudah Anda pergi ke seminar, berapa kali Anda diminta untuk segera take action tapi sampai detik ini Anda masih belum bergerak. Merasa bersalah?
"The possibilities are numerous once we decide to act and not react." (George Bernard Shaw)

Hadits Shaum




Rasululloh bersabda:

"Dan Ketika ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab: Ia adalah hari kelahiranku, hari aku diutus, dan hari diturunkan Al-Qur'an padaku" (HR Muslim)

Sepucuk Bunga untuk Pendampingku

Istriku tercinta......
Pendampingku... Pujaan hatiku.
Kau partner sekaligus teman terbaik menapaki perjalanan dalam mencari Ridho-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Saat Senang kau selalu mengingatkan tuk selalu bersyukur
Saat duka kau selalu menyemangatiku..terus dan terus....
Istriku..
Tak terasa kini kau tlah bertambah usiamu
kau menjadi muslimah dan ummi yg lemah lembut serta penyayang
Muslimah yang memberikan pancaran perubahan baik dikeluarga,
masyarakat maupun lingkungan ttempat kerja.
Mudah-mudahan kau selalu disayangi Allah dan Rasul-Nya.

Istriku...
Ada sebuah senandung yg menggetarkan qolbu dan mengingatkan kita,
sangat penting memiliki partner dan pendamping yg hanif dan saleh
.......Nasyid terbaik, download di ..SINI

>>>>Suamimu>>>>

Duh.... Anakku tak mau patuh




DUH… ANAKKU KOK TIDAK MAU PATUH?

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Ibu Lena kerap dibuat bingung ketika anak semata wayangnya susah disuruh mandi. Setiap pagi dan sore hari, dia harus membujuk Rio agar mau mandi dengan beragam iming-iming. Dari dibelikan mobil-mobilan baru, sampai diajak ke pasar karnaval minggu depan. Namun, semua itu tidak serta merta membuat Rio bergegas ke kamar mandi. Kalaupun akhirnya Rio beranjak ke kamar mandi, dia asyik berendam di ember besar beserta bebek-bebek plastik kesayangannya.

Kisah ibu Maya beda lagi. Anak bungsunya hanya mau taat pada perintahnya jika suaminya ada di rumah. Dengan kata lain, sang anak lebih patuh pada perintah ayahnya daripada aturan ibunya. Satu dua kali, hal tersebut tidak mendatangkan masalah. Tetapi, lama kelamaan, ibu Maya merasa seperti dimanipulasi oleh anaknya tersebut. Bagaimana tidak? Setiap curhat tentang kelakuan anaknya, sang suami seolah tidak percaya karena memang di depannya, anaknya selalu tampil “manis”.

Komitmen Diri




Hari penuh berkah telah menyapa kita, RAMADHAN. Sudahkah kita mengisinya dengan maksimal baik dg ibadah maupun dengan amanah yg kita tunaikan setiap hari? Kata-kata manis dan penuh ajakan perbaikan terlontar dari mulut kita! Ayo... kita isi ramadhan dg ibadah, isi dg mencari ilmu, muhasabah diri, dan segudang ajakan yg kita lontarkan.. Tapi apakah kita sendiri mengamalkannya? apakah sekuat tenaga dengan sungguh-sungguh? atau hanya yg hanya bisa berbicara saja bagai pepatah :"Tong kosong nyaring bunyinya" + Da'i yg hanya berbicara tapi belum diamalkan dengan sungguh-sungguh. Mari bercermin dari 17 atau 18 hari Ramadhan telah berlalu... "Nasi telah menjadi bubur" saatnya bubur dimodifikasi menjadi bubur special ala kita sendiri. super special bahkan sangat luar biasa. Saatnya rencana, impian dan tekad yg kuat kita serasikan. Tuliskan dan amalkan dg sekuat tenaga. Niatkan karena mencari ridho-Nya dimanapun dan aktifitas apapun yg kita kerjakan. ingat sabda rosul: "Man ja da wa jada: siapa yg bersungguh-sungguh pasti dapat" Tak ada kata terlambat, tak ada malas dan kata-kata yg menurunkan semangat kita Perubahan merupakan kumpulan titik-titik dan langkah-langkah kecil kita. tak ada kata instan / langsung jadi. Buktikan dg Iman : Niat, lisan dan amal. Semangat muncul dg bergerak dan arah yg jelas. Mari optimalkan segala potensi yg kita miliki, menuju pribadi yg shaleh dan profesional. Bismillah..... Kerja...kerja dan kerja... Ya Rabb.... Engkau pembuka jalan dan hidayah kepada kami. Tunjukkan dan kokohkan dalam hati kami Ampuni segala khilaf kami Jadikan kami generasi islami. Ayah QQ

Introspeksi




sahabat sekalian.... setiap orang pernah melakukan kesallahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. sebesar apapun perbuatan yg dilakukan, pasti ada konsekuensinya. kebaikan dan keburukan akan selalu nampak di pilihan kita. Jalan kepada keburukan begitu nampak indah, mudah dan menarik hati. sebaliknya jalan menuju kebaikan nampak berliku-liku, susah, perlu perjuangan dan kerja keras.. sahabat.... penyesalan datangnya pasti diakhirnya, tidak akan datang diawal. kecuali hanyalah Alloh swt yang berkehendak! Kita manusia hakikatnya tempatnya salah, tapi Alloh swt memberikan jalan untuk memilih. Tergantung kepada kita saat ini, bukan kemarin ataupun esok hari. apalagi menyalahkan oranglain. sahabat.... Saat ini, saat menyusun, merencanakan dan melakukan aksi nyata. Yang berlalu biarlah berlalu, jadikan pelajaran yg sangat berharga. Sekarang saatnya memilah prioritas, manajemen waktu dan memurnikan kembali tujuan kita yaitu hanyalah Ridho Alloh swt Ingat dg Konsep AAGYM, Mulailah Saat Ini. Bismillahhirrohman Nirrohiim

Renungan-1




sahabat......
Tak terasa waktu bergerak terus tapi kita masih diam ditempat?
Saat oranglain menuju sukses, kita hanya merencana tanpa berbuat?
saat kesulitan datang, kita malah menghindar bukan menghadapinya?
saat kesempatan terbuka, kita malah membiarkan dengan egonya?
saat merasa sendiri, padahal disekitar kita banyak orang.

sahabat...
kita kadang lupa dengan nikmat yg diberikan-Nya
nikmat sehat, nikmat iman dan banyak nikmat lainnya yg tak terbatas.

sahabat....
saatnya bermuhasabah dan memperbaiki diri
dengan konsep 3M
1. mulai dari diri sendiri
2. mulaai dari hal kecil
3. mulai saat ini

sahabat....
sekarang saatnya perubahan
tuliskan rencana hidup dengan teliti
kemudian kerjakan dengan sungguh-sungguh..

Bismillah......